Para ahli kurikulum tidak henti-hentinya
mencurahkan ide dan gagasannya dalam pengembangan kurikulum. Ide atau konsep
kurikulum bersifat dinamis, dalam arti akan selalu berubah mengikuti
perkembangan zaman, minat dan kebutuhan peserta didik, tuntutan masyarakat,
ilmu pengetahuan dan teknologi. Ide atau gagasan tentang kurikulum hanya ada
dalam pemikiran seseorang yang terlibat dalam proses pendidikan, baik secara
langsung maupun tidak langsung, seperti Menteri pendidikan nasional, Kepala
Dinas Pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua
siswa. Ketika orang berpikir tentang tujuan bersekolah, materi yang harus
disampaikan kepada peserta didik, sikap yang harus ditanamkan, kegiatan yang
harus dilakukan oleh guru, orang tua dan peserta didik, objek evaluasi, maka
itulah dimensi kurikulum sebagai suatu ide atau konsepsi. Paling tidak itulah
konsep kurikulum menurut mereka. Ide atau konsepsi kurikulum setiap orang tentu
berbeda, seiring dengan pemahaman orang tersebut bagaimana pentingnya kurikulum
tersebut dalam proses pendidikan yang berkesinambungan. Ide dan konsepsi
tersebut dipengaruhi oleh cara berpikir mereka tentang pendidikan. Perbedaan
ide dari orang-orang tersebut sangat penting untuk dianalisis bahkan dapat
dijadikan landasan pengembangan kurikulum.
Hernawan (2008) istilah kurikulum (curriculum) pada awalnya
digunakan dalam dunia olah raga, berasal dari kata curir (palari), dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu
kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai
dari start sampai finish untuk meperoleh medali atau penghargaan.
Kemudian pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah
mata pelajaran (subject) yang
harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program program
pelajaran untuk memperoleh ijazah. Dari rumusan pengertian kurikulum teresbut
mengandung dua hal pokok yaitu:
1.
Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa
2.
Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah
Dengan demikian implikasi terhadap praktek pengajaran yaitu setiap siswa
harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan memnempatkan guru
dalam posisi sangat penting dan menentukan. keberhasilan siswa ditentukan oleh
seberapa jauh mata pelajaran tersebut dikuasainya dan biasanya disimbolkan
denagn skor yang diperoleh setelah mengikuti suatu tes atau ujian.
Hilda Taba dalam Arifin (2014)
menyatakan bahwa” A curriculum is plan for learning”. Rencana tersebut
berkaitan dengan proses belajar maupun pengembangan peserta didik pada semua
jenis dan jenjang pendidikan. Rencana yang dimaksud biasanya dituangkan dalam
bentuk dokumen tertulis yang kemudian dikenal dengan konsep kurikulum sebagai
suatu dokumen tertulis (curriculum as
a written document)
Pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli rupanya sangat
bervariasi, tetapi dari beberapa definisi itu dapat ditarik benang merah, bahwa
di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dan di
lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengalaman belajar.
Menurut Oliva, dkk (2012) di dunia barat, dalam dunia pendidikan yang
profesional kata “kurikulum” menjadi sulit dipahami, malah hampir memiliki
konotasi. Sebaliknya dimensi dunia pendidikan lainnya seperti
administrasi, pembelajaran, dan
supervisi sangat kentara dan berorientasi pada kegiatan. Pembahasan kurikulum disana
berkisar pada :
Administrasi
Pendidikan, yaitu Kegiatan mengelola yang memberikan pelayanan, bantuan dan
pengarahan di bidang pendidikan
Supervisi,
yaitu kegiatan pengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses
dan prestasi pendidikan
Intruksi,
yaitu penyampaian suatu pengertian dan kecakapan kepada orang lain, untuk
mencapai tujuan yang dikehendaki
Meskipun semua pendidik disana mengambil satu atau lebih pelatihan bidang
kurikulum tetap tidak ada hal-hal yang secara pasti dinamakan kurikulum.
Sertifikat profesional pendidik diberikan kepada para ahli dibidang
administrasi, bimbingan, pengawas, psikolog sekolah, pendidikan dasar dan
bidang pendidikan lainnya, tetapi tidak diberikan sertifikat khusus bidang kurikulum.
Para pekerja kurikulum, konsultan dan koordinator bahkan professor dibidang
kurikulum dapat ditemukan. Para ahli ini memiliki sertifikat negara dalam satu
atau lebih bidang tetapi tidak punya sertifikat khusus bidang kurikulum.
Kurikulum dibangun, direncanakan, dirancang,dan disusun, selanjutnya
diimprovisasi, direvisi dan dievaluasi. Dengan cara itulah kurikulum dibangun
dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum juga diorganisasi,
distrukturisasi, dan direstrukturisasi dan kemudian direformasi.
Daniel Tanner dan Laurel Tanner dalam Arifin (2014), "kurikulum
adalah pengalaman pembelajaran yang terarah dan terencana secara terstuktur dan
tersusun melalui proses rekontruksi pengetahuan dan pengalaman secara
sistematis yang berada dibawah pengawasan lembaga pendidikan sehingga pelajar
memiliki motivasi dan minat belajar”.
Menurut Franklin Bobbit dalam Oliva dkk (2012), kurikulum merupakan
serangkaian hal yang harus dilakukan dan menjadi pengalaman dari anak-anak dan
remaja dengan cara mengembangkan kemampuan untuk melakukan hal-hal yang akan
mendukung permasalahan kehidupan saat dewasa dan menghargai sebagaimana
harusnya orang dewasa.
Selain hal-hal yang sudah dipaparkan di atas, ada lagi yang harus
diperhitungkan dalam dunia pendidikan yaitu kurikulum “Tersembunyi” (hidden
curriculum). Kurikulum ini antara lain berupa “aturan tak tertulis” dikalangan
siswa misalnya “harus kompak terhadap guru”, kebersihan, pengelolaan kelas,
lingkungan yang rindang yang turut mempengaruhi suasana pengajaran dalam kelas.
Kurikulum tersembunyi ini dianggap oleh kalangan tertentu tidak termasuk
kurikulum karena tidak direncanakan.
Salah satu pegangan dalam pengembangan kurikulum ialah prinsip-prinsip yang
dikemukakan oleh Ralph Tyler dalam Oliva dkk
(2012). Ia mengemukakan kurikulum ditentukan oleh empat faktor atau asas utama,
yaitu :
1. Falsafah bangsa, masyarakat,
sekolah dan guru-guru (aspek filosofis).
2. Harapan
dan kebutuhan masyarakat (orang tua, kebudayaan masyarakat, pemerintah, agama, ekonomi, dan sebagainya)
(aspek sosiologis).
3. Hakikat
anak antara lain taraf perkembangan fisik, mental psikologis, emosional, sosial
serta cara anak belajar (aspek psikologis).
4. Hakikat
pengetahuan atau disiplin ilmu (bahan pelajaran).
Menurut Oliva (2012), kurikulum sebagai sebuah disiplin ilmu mempunyai
beberapa karakter:
1.
Dari segi prinsip pembelajaran memiliki rangkaian
teoritis secara terorganisir atau prinsip-prinsip yang membangunnya.
2.
Kedisiplinan dipandang dari pengetahua dan ketrampilan
mencakup tubuh pengatahuan dan ketrampilan yang bersangkutan pada disiplin ilmu
itu sendiri
3.
Kita dapat menyimpulkan area wilayah kurikulum
memerlukan penggabungan dari pengetahuan dan ketrampilan dari banyak disiplin
ilmu yaitu :
-
Sistem teori
-
Tehnologi
-
Evaluasi
-
Sosiologi
-
Psikologi
-
Supervisi
-
Organisasi teori
-
Managemen
-
Area subjek
-
Filsafat
-
Sejarah
-
Teori komunikasi dan,
-
Pembelajaran
4.
Secara teoritis, pelaksanaan sebuah disiplin ilmu
memiliki ahli teoritis yang biasa disebut sebagai perencana, konsultan,
koordinator, direktur dan profesor bidang kurikulum yang kesemuanya disebut
ahli kurikulum. Ahli kurikulum ini memebuat konstribusi yang berbeda pada area
masing-masing.secara praktikal, dibutuhkan orang yang melaksanakan kurikulum
yaitu pendidik. Tujuan ahli kurikulim yaitu untuk menngkatkan prestasi siswa.
Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, maka ahli kurikulum harus
mamahami tujuan pendidikan.
Ahli kurikulum dengan kreatif mempelajari, mengubah teori dan pengetahuan
ke dalam praktek. Membawa dan
memberanikan diri untuk melakukan studi dalam masalah kurikulum, membandingkan
rencana dan program hasil pola baru, dan pola baru serta sejarah percobaan
kurikulum. Ahli ini memberanikan diri untuk menggunakan hasil penelitian untuk
mengembangkan kurikulum dalam menyongsong masa yang akan datang. Sebagai
pelaksana kurikulum, guru kelas sehari-hari berkonsentrasi pada masalah
kurikulum dan pembelajaran, sedangkan ahli kurikulum bertanggung jawab sampai
pada skap kedisiplinan para guru dalam melaksanakan proses pembalajaran.
Review buku ad g? Buku S2.
ReplyDeleteWAH...Ide bagus tuh, ntar ya belajar mereview dulu
Delete