Sunday, July 26, 2020

Kata atau Istilah pada Teks dan Menentukan Sinonim atau Antonim

A. Kata atau Istilah

Kata atau Istilah dapat dikategorikan dalam kata populer, kata kajian dan kata serapan.
Menurut KBBI Kata adalah  unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

Contoh:


      Wali kelas 6 A meminta seluruh siswa untuk membersihkan lingkungan sekolah pada hari Jumat. Siswa diharapkan membawa alat kebersihan seperti sapu lidi, sapu ijuk, kemoceng, dan kain pel. Setiap siswa harus berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. 
Makna kata bergaris bawah di dalam paragraf tersebut yaitu ....
ikut serta dalam kegiatan









B. Sinonim 
Sinonim adalah beberapa kata yang memiliki bentuk berbeda, tetapi memiliki arti yang sama atau mirip. Sinonim juga disebut padanan kata atau persamaan kata.

Contoh:
bohong = dusta
haus = dahaga
pakaian = baju = busana
besar = agung = raya

C. Antonim
Antonim adalah sebuah kata yang memiliki arti berlawanan.
Contoh:
jauh >< dekat
panjang >< pendek
tinggi >< rendah
rajin >< malas


Latihan

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Temukan 5 contoh Sinonim kata !
2. Temukan 5 contoh Antonim kata!
3. Teritip adalah nama tempat di Balikpapan yang merupakan  penangkaran buaya.
    Istilah penangkaran memiliki makna tempat ...
4. Pulau-pulau itu menghadirkan keindahan wisata bahari tanpa batas.
    Sinonim kata bahari adalah ...

Friday, July 5, 2019

Merry Christiana: Pengertian Kurikulum

Merry Christiana: Pengertian Kurikulum: Para ahli kurikulum tidak henti-hentinya mencurahkan ide dan gagasannya dalam pengembangan kurikulum. Ide atau konsep kurikulum bersifat di...

Merry Christiana: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Mem...

Merry Christiana: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Mem...: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Membaca pada Siswa Sekolah Dasar Merry Christiana merry.tia@gmail.com Abstrak ...

Wednesday, July 3, 2019

Generasi Muda Impian, Generasi Peduli Lingkungan


Dalam dunia pendidikan di Indonesia pendidikan karakter di integrasikan kedalam kurikulum yang dimulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi.Pusat kurikulum pengembangan dan pendidikan budaya dan karakter bangsa: Pedoman Sekolah menyatakan bahwa ada 18 nilai pendidikan karakter dan sikap peduli lingkungan sekitar adalah satu diantara kedelapanbelas sikap tersebut (Narwanti dalam Aryani: 2014)

Senada dengan pernyataan diatas Goleman juga berpendapat “Research studies examining the influence of an environment based context have revealed similar encouraging findings with respect to academis performance (2012). Penelitian lebih lanjut pun meneliti bahwa pendidikan berbasis lingkungan dapat mendukung akademik siswa. Jadi penanaman sikap peduli lingkungan sekitar menjadi hal penting yang harus diterapkan sejak dini karena di masa ini lah siswa lebih mudah menyerap segala yang ditanamkan di pemikirannya. Sikap peduli lingkungan juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan ekoliterasi. Sejalan dengan ini Goleman menyatakan bahwa ada dua dimensi yang terkait dengan ekologis, yaitu empati kepada semua bentuk kehidupan dan kognitif, yaitu bagaimana kita memahami bagaimana alam bertahan (2012). Dari pernyataan tersebut membimbing kita akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang tercermin dalam empati dan memahami bagaimana alam berubah.

Masih menurut Goleman (2012)”Social and emotional learning was embraced by many schools on the promise that helping children develop the capacities for self awareness and relationship management would increase their likelyhood of success in school and in life”

Jadi bukan isu baru lagi untuk sekolah bahkan sekolah di luar negeri dalam menanamkan sikap kepedulian kepada anak didiknya dengan harapan menjadi bekal mereka saat menjadi siswa dan lebih lanjut dalam nilai yang dimiliki seumur hidupnya.

Pendidikan karakter peduli lingkungan diharapkan mampu menanamkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan. Sikap peduli tersebut diharapkan mampu membuat siswa lebih arif terhadap lingkungan. Berdasarkan beberapa penelitian terdapat hubungan signifikan antara pemahaman peduli lingkungan dengan menciptakan generasi muda yang ekoliterasi (Kresnawati:2013)

Menurut Nenggala (2007) indikator seseorang peduli lingkungan adalah:

1.  Selalu menjaga kelestarian lingkungan sekitar

2.  Tidak mengambil, menebang atau mencabut tumbuhan di sepanjang perjalanan

3.  Tidak mencorat-coret,  menorehkan tulisan pada pohon, batu-batu di jalan atau 
     dinding

4.   Selalu membuang sampah pada tempatnya

5.   Tidak membakar sampah di sekitar perumahan

6.   Melaksanakan kegiatan membersihkan lingkungan

7.   Menimbun barang-barang bekas

8.   Membersihkan sampah-sampah yang menyumbat saluran air

Dari indikator diatas pendidik dapat mengarahkan siswa agar memiliki sifat peduli lingkungan yang tercermin dalam tindakannya. Pendidik memiliki posisi penting dalam penanaman karakter peduli lingkungan, karena pendidik adalah tonggak awal agen perwujudan generasi impian, generasi peduli lingkungan.

Tuesday, July 2, 2019

Konsep Pembangunan Karakter Dan Kepribadian Bangsa



Istilah karakter bangsa identik dengan “national character” yang erat kaitannya dengan masalah kepribadian dalam psikologi sosial (Sapriya, 2008: 205). Menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010: 7) karakter bangsa adalah:   Kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. De Vos (Budimansyah dan Suryadi, 2008:77-78) menyatakan bahwa karakter bangsa yaitu  the term ‘national character’ is used describe the enduring personality characteristics and unique life style found among the populations particular nations state’ dengan kata lain bahwa karakter bangsa digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri kepribadian yang tetap dan gaya hidup yang khas yang ditemui pada penduduk negara bangsa tertentu. Karena hal ini terkait dengan masalah kepribadian yang merupakan bagian dari aspek kejiwaan. Diakui oleh De Vos bahwa dalam konteks perilaku, karakter bangsa dianggap sebagai istilah yang abstrak yang terikat oleh aspek budaya dan termasuk dalam mekanisme psikologis yang menjadi karakteristik masyarakat tertentu. 
Pembangunan karakter bangsa merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan proses membina, memperbaiki, dan mewarisi warga negara tentang konsep, perilaku, dan nilai luhur budaya Indonesia yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sehingga terinternalisasi dalam diri individu dan terbentuk warga negara yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ipteks yang semuanya didasari oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter seseorang dalam proses perkembangan dan pembentukannya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan factor bawaan (nature). Faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan disebut faktor bawaan (nature), sedangkan factor lingkungan (nurture) menunjukkan dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan.
Bangsa Indonesia sampai saat ini belum optimal dalam upaya membangun karakter warga negara, bahkan setiap saat kita saksikan berbagai macam tindakan masyarakat yang berakibat pada kehancuran suatu bangsa yakni; menurunnya perilaku sopan santun, menurunnya perilaku kejujuran, menurunnya  rasa kebersamaan, dan menurunnya rasa gotong royong diantara anggota masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut  menurut Lickona (1992:32) terdapat 10 tanda dari perilaku manusia yang menunjukan arah kehancuran suatu bangsa yaitu:   
1)      meningkatnya kekerasan dikalangan remaja;
2)      ketidakjujuran yang membudaya;
3)      semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru dan figur pemimpin;
4)      pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan;
5)      meningkatnya kecurigaan dan kebencian,
6)      penggunaan bahasa yang memburuk;
7)      penurunan etos kerja;
8)      menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara;
9)      meningginya perilaku merusak diri; dan
10)  semakin kaburnya pedoman moral.
Rumusan pemikiran Thomas Lickona yang telah dituangkannya pada puluhan tahun lalu itu ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Ke-sepuluh tanda perilaku manusia tersebut sangat mudah kita temui dalam kehidupan masyarakat saat ini. Apakah bangsa ini sedang berada pada jalur kehancuran? Kini saatnya kita bergerak bersama. Pembangunan karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah dibutuhkan. Pembangunan karakter bangsa dapat ditempuh dengan cara  mentransformasi nilai-nial budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa. Pentingnya transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa adalah sebagai berikut (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 1):
1)   Secara filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis;
2)   Secara ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejewantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif, pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara;
3)   Secara historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah, baik pada zaman penjajah, maupan pada zaman kemerdekaan;
4)   Secara sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural.
Dalam upaya pembangunan karakter bangsa apabila kurang memperhatikan  nilai-nilai budaya bangsa Indonesia maka akan berakibat pada ketidakpastian jati diri bangsa yang menurut Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia (2010:2) tentang “Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025” akan terjadi:
1)   Disorientasi  dan belum dihayati nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa,
2)   Keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila,
3)   Bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
4)   Memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan bernegara,
5)   Ancaman disintegrasi bangsa, dan
6)   Melemahnya kemandirian bangsa.
  Berdasarkan hal tersebut di atas, pembangunan karakter bangsa melibatkan berbagai pihak baik keluarga, lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil selama pihak-pihak yang berkompeten untuk menunjang pembangunan karakter tersebut tidak saling bekerja sama. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa perlu dilakukan di luar sekolah atau pada masyarakat secara umum sesuai dengan kearifan budaya lokal masing-masing.

Monday, July 1, 2019

Mengaplikasikan teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran


  Ketika guru ingin mengaplikasikan teori behavioristik ke dalam kegiatan pembelajaran, hal pertama yang harus dipahami adalah teori belajar behavioristik menekankan pada hubungan stimulus dan respons dan siswa diposisikan sebagai pihak yang pasif. Respons yang dihasilkan semata berdasarkan hasil dari pembiasaan atau drill yang dikondisikan. 

Jika diperkecil lagi  menjadi bagian-bagian penting maka teori belajar behavioristik memiliki beberapa  unsur  yang sangat mendasar yaitu hubungan stimulus dan respon, pembentukan perilaku, perilaku sebagai hasil belajar, reinforcement dan hukuman.

Setelah memahami inti dari teori belajar behavioristik maka guru dapat mulai merancang pembelajaran dan kemudian mengaplikasikannya dengan memperhatikan unsur-unsur penting dari behavioristik tersebut. Dalam mengaplikasikan teori belajar behavioristik guru harus mengetahui tujuan apa yang ingin dicapai dalam pembelajarannya. Guru juga harus mempertimbangkan sifat materi pelajaran yang akan diajarkan, apakah cocok dan memungkinkan  jika menggunakan teori belajar behavioristik. Guru juga harus mengetahui karakteristik siswanya dan penggunaan media serta fasilitas apa yang cocok dengan karakteristik siswa dan teori belajar behavioristik. Mengaplikasian teori belajar behavioristik ke dalam pelajaran sebenarnya seperti mengajarkan siswa dengan terlebih dahulu memberi mereka bingkai aturan yang jelas, dan siswa diarahkan untuk mengikuti aturan tersebut, melalui berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membentuk perilaku siswa melalui pembiasaan. Jika dalam pembelajaran terdapat hal yang diluar aturan yang ditentukan guru maka siswa harus diberi hukuman, sebaliknya jika pembelajaran berjalan sesuai tujuan yang diharapkan guru, maka siswa dapat diberi penguatan, seperti pemberian hadiah.

Sunday, June 30, 2019

Bagaimana sebaiknya sikap guru-guru di daerah terpencil menghadapi pembejaran di era teknologi



Guru di daerah terpencil tentu memiliki banyak sekali keterbatasan jika dilihat dari sisi teknologi. Banyak guru didaerah terpencil yang belum mampu mengoperasikan komputer. Lantas bagaimana ketika mereka menghadapi era teknologi yang sangat pesat perkembangannya dewasa ini. Tentu dalam hal ini peran beberapa pihak diperlukan. Guru daerah terpencil yang tidak memiliki akses internet bahkan sinyal, harus kerja extra keras untuk memperluas pengetahuan dan kompetensinya sebagai guru, jika mengharapkan guru daerah terpencil untuk rutin ke kota, tentu tidak bisa, karena pengeluaran mereka ketika ke kota atau ke tempat yang memiliki akses sinyal internet biasanya membutuhkan uang yang tidak sedikit, tetapi itu semua dapat diakali dengan mencatat apa saja yang akan diakses ketika dalam satu bulan memiliki jatah untuk ke kota, entah untuk membeli beras dan belanja sehari-hari untuk di stock d daerah terpencil selama masa pengabdian, atau ketika harus berurusan ke Dinas Pendidikan kab/kota, maka to do list yang sudah dibuat selama berada di daerah terpencil langsung dilaksanakan ketika masa ke kota ini. Hal ini dilaksanakan agar guru meskipun berada di daerah terpencil tetapi tidak membuat mereka terkurung ke dalam kurangnya pengetahuan dan pengembangan kompetensi diri sebagai guru.

Dan tentu saja pemerintah pun seharusnya memberi perhatian lebih kepada guru yang berada di daerah terpencil ini, mengingat jasa mereka yang banyak dalam memberantas buta huruf dan miskinnya pendidikan di daerah terpencil, pemerintah seharusnya memfasilitasi guru-guru terpencil ini untuk mampu mengembangkan diri,seperti memberi pelatihan mengoperasikan komputer dan internet, memberi beasiswa melanjutkan kuliah untuk guru terpencil dan masih banyak lagi. Selama ini pemerintah sudah mulai memberi perhatian khusus untuk guru daerah terpencil dengan menempatkan Guru Garda Depan di wilayah SM3T dan memberi tunjangan kepada guru daerah terpencil. Tetapi disayangkan, biaya hidup guru daerah terpencil ketika harus menuju ke kotapun sangat besar, alhasil tunjangan daerah terpencil tersebut hanya cukup untuk sehari-hari dan transportasi mereka saja.

Oleh karena itu diperlukan motivasi yang kuat untuk tidak tertinggal dalam hal teknologi meskipun berada di daerah terpencil, dan menyusun strategi sehingga meskipun berada di daerah terpencil, para guru tetap mampu mengakses teknologi, menambah wawasan, meski hal itu hanya dapat dilakukan sebulan sekali ketika berada dikota.

Sunday, October 15, 2017

Pengertian Kurikulum

Para ahli kurikulum tidak henti-hentinya mencurahkan ide dan gagasannya dalam pengembangan kurikulum. Ide atau konsep kurikulum bersifat dinamis, dalam arti akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, minat dan kebutuhan peserta didik, tuntutan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ide atau gagasan tentang kurikulum hanya ada dalam pemikiran seseorang yang terlibat dalam proses pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti Menteri pendidikan nasional, Kepala Dinas Pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua siswa. Ketika orang berpikir tentang tujuan bersekolah, materi yang harus disampaikan kepada peserta didik, sikap yang harus ditanamkan, kegiatan yang harus dilakukan oleh guru, orang tua dan peserta didik, objek evaluasi, maka itulah dimensi kurikulum sebagai suatu ide atau konsepsi. Paling tidak itulah konsep kurikulum menurut mereka. Ide atau konsepsi kurikulum setiap orang tentu berbeda, seiring dengan pemahaman orang tersebut bagaimana pentingnya kurikulum tersebut dalam proses pendidikan yang berkesinambungan. Ide dan konsepsi tersebut dipengaruhi oleh cara berpikir mereka tentang pendidikan. Perbedaan ide dari orang-orang tersebut sangat penting untuk dianalisis bahkan dapat dijadikan landasan pengembangan kurikulum.
Hernawan (2008) istilah kurikulum (curriculum) pada awalnya digunakan dalam dunia olah raga, berasal dari kata curir (palari), dan  curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk meperoleh medali atau penghargaan. Kemudian pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran   (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program program pelajaran untuk memperoleh ijazah. Dari rumusan pengertian kurikulum teresbut mengandung dua hal pokok yaitu:
1.      Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa
2.      Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah
Dengan demikian implikasi terhadap praktek pengajaran yaitu setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan memnempatkan guru dalam posisi sangat penting dan menentukan. keberhasilan siswa ditentukan oleh seberapa jauh mata pelajaran tersebut dikuasainya dan biasanya disimbolkan denagn skor yang diperoleh setelah mengikuti suatu tes atau ujian.
Hilda Taba dalam Arifin  (2014) menyatakan bahwa” A curriculum is plan for learning”. Rencana tersebut berkaitan dengan proses belajar maupun pengembangan peserta didik pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Rencana yang dimaksud biasanya dituangkan dalam bentuk dokumen tertulis yang kemudian dikenal dengan konsep kurikulum sebagai suatu dokumen tertulis  (curriculum as a written document)
Pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli rupanya sangat bervariasi, tetapi dari beberapa definisi itu dapat ditarik benang merah, bahwa di satu pihak ada yang menekankan pada isi pelajaran atau mata kuliah, dan di lain pihak lebih menekankan pada proses atau pengalaman belajar.
Menurut Oliva, dkk (2012) di dunia barat, dalam dunia pendidikan yang profesional kata “kurikulum” menjadi sulit dipahami, malah hampir memiliki konotasi. Sebaliknya dimensi dunia pendidikan lainnya seperti administrasi,  pembelajaran, dan supervisi sangat kentara dan berorientasi pada kegiatan. Pembahasan kurikulum disana berkisar pada :
  Administrasi Pendidikan, yaitu Kegiatan mengelola yang memberikan pelayanan, bantuan dan pengarahan di bidang pendidikan
  Supervisi, yaitu kegiatan pengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan prestasi pendidikan
  Intruksi, yaitu penyampaian suatu pengertian dan kecakapan kepada orang lain, untuk mencapai tujuan yang dikehendaki
Meskipun semua pendidik disana mengambil satu atau lebih pelatihan bidang kurikulum tetap tidak ada hal-hal yang secara pasti dinamakan kurikulum. Sertifikat profesional pendidik diberikan kepada para ahli dibidang administrasi, bimbingan, pengawas, psikolog sekolah, pendidikan dasar dan bidang pendidikan lainnya, tetapi tidak diberikan sertifikat khusus bidang kurikulum. Para pekerja kurikulum, konsultan dan koordinator bahkan professor dibidang kurikulum dapat ditemukan. Para ahli ini memiliki sertifikat negara dalam satu atau lebih bidang tetapi tidak punya sertifikat khusus bidang kurikulum.
Kurikulum dibangun, direncanakan, dirancang,dan disusun, selanjutnya diimprovisasi, direvisi dan dievaluasi. Dengan cara itulah kurikulum dibangun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum juga diorganisasi, distrukturisasi, dan direstrukturisasi dan kemudian direformasi.
Daniel Tanner dan Laurel Tanner dalam Arifin (2014), "kurikulum adalah pengalaman pembelajaran yang terarah dan terencana secara terstuktur dan tersusun melalui proses rekontruksi pengetahuan dan pengalaman secara sistematis yang berada dibawah pengawasan lembaga pendidikan sehingga pelajar memiliki motivasi dan minat belajar”.
Menurut Franklin Bobbit dalam Oliva dkk (2012), kurikulum merupakan serangkaian hal yang harus dilakukan dan menjadi pengalaman dari anak-anak dan remaja dengan cara mengembangkan kemampuan untuk melakukan hal-hal yang akan mendukung permasalahan kehidupan saat dewasa dan menghargai sebagaimana harusnya orang dewasa.
Selain hal-hal yang sudah dipaparkan di atas, ada lagi yang harus diperhitungkan dalam dunia pendidikan yaitu kurikulum “Tersembunyi” (hidden curriculum). Kurikulum ini antara lain berupa “aturan tak tertulis” dikalangan siswa misalnya “harus kompak terhadap guru”, kebersihan, pengelolaan kelas, lingkungan yang rindang yang turut mempengaruhi suasana pengajaran dalam kelas. Kurikulum tersembunyi ini dianggap oleh kalangan tertentu tidak termasuk kurikulum karena tidak direncanakan.
Salah satu pegangan dalam pengembangan kurikulum ialah prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Ralph Tyler dalam Oliva dkk (2012). Ia mengemukakan kurikulum ditentukan oleh empat faktor atau asas utama, yaitu :
1.     Falsafah bangsa, masyarakat, sekolah dan guru-guru (aspek filosofis).
2.      Harapan dan kebutuhan masyarakat (orang tua, kebudayaan masyarakat,     pemerintah,   agama, ekonomi, dan sebagainya) (aspek sosiologis).
3.      Hakikat anak antara lain taraf perkembangan fisik, mental psikologis, emosional, sosial serta cara anak belajar (aspek psikologis).
4.      Hakikat pengetahuan atau disiplin ilmu (bahan pelajaran).

Menurut Oliva (2012), kurikulum sebagai sebuah disiplin ilmu mempunyai beberapa karakter:
1.      Dari segi prinsip pembelajaran memiliki rangkaian teoritis secara terorganisir atau prinsip-prinsip yang membangunnya.
2.      Kedisiplinan dipandang dari pengetahua dan ketrampilan mencakup tubuh pengatahuan dan ketrampilan yang bersangkutan pada disiplin ilmu itu sendiri
3.      Kita dapat menyimpulkan area wilayah kurikulum memerlukan penggabungan dari pengetahuan dan ketrampilan dari banyak disiplin ilmu yaitu :
-          Sistem teori
-          Tehnologi
-          Evaluasi
-          Sosiologi
-          Psikologi
-          Supervisi
-          Organisasi teori
-          Managemen
-          Area subjek
-          Filsafat
-          Sejarah
-          Teori komunikasi dan,
-          Pembelajaran
4.      Secara teoritis, pelaksanaan sebuah disiplin ilmu memiliki ahli teoritis yang biasa disebut sebagai perencana, konsultan, koordinator, direktur dan profesor bidang kurikulum yang kesemuanya disebut ahli kurikulum. Ahli kurikulum ini memebuat konstribusi yang berbeda pada area masing-masing.secara praktikal, dibutuhkan orang yang melaksanakan kurikulum yaitu pendidik. Tujuan ahli kurikulim yaitu untuk menngkatkan prestasi siswa. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, maka ahli kurikulum harus mamahami tujuan pendidikan.

Ahli kurikulum dengan kreatif mempelajari, mengubah teori dan pengetahuan ke dalam  praktek. Membawa dan memberanikan diri untuk melakukan studi dalam masalah kurikulum, membandingkan rencana dan program hasil pola baru, dan pola baru serta sejarah percobaan kurikulum. Ahli ini memberanikan diri untuk menggunakan hasil penelitian untuk mengembangkan kurikulum dalam menyongsong masa yang akan datang. Sebagai pelaksana kurikulum, guru kelas sehari-hari berkonsentrasi pada masalah kurikulum dan pembelajaran, sedangkan ahli kurikulum bertanggung jawab sampai pada skap kedisiplinan para guru dalam melaksanakan proses pembalajaran.

Saturday, October 14, 2017

Objek Wisata "Ikan Dewa" Cibulan, Kuningan


Bulan September 2017 ini kami berkesempatan mengunjungi Obyek wisata ikan Dewa yang bernama Cibulan,

Diresmikan pada 27 Agustus 1939 oleh Bupati Kuningan saat itu, kini menjadi salah satu tempat yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan baik lokal maupun manca negara. Terbukti ketika kami mengunjungi tempat ini, pengunjung yang datang lumayan banyak padahal kami tidak berkunjung saat weekend.

Lokasi

Lokasi Objek Wisata Cibulan sangat mudah di akses karena tidak jauh dari jalan besar Kuningan-Cirebon, Terletak di Kabupaten Kuningan,Manis Kidul, Jalaksana, Jawa Barat.

Jam Buka dan Tarif Masuk

Jam operasional objek wisata ini dari pukul 08.00-17.00 
dengan tarif sekitar :
Dewasa  Rp. 15.000,-
Anak-anak Rp. 12.000,-
Sangat terjangkau bukan?

Berenang dan berphoto dengan Ikan Dewa

Di objek wisata Cibulan kita dapat berenang dengan ikan dewa (Kancra Bodas) atau bisa juga disebut dengan Labeobarbus douronensis.  Ikan dewa ini dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di kolam Cibulan. 

Dari penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Limonologi LIPI, ikan yang beratnya mencapai 1  sampai dengan 15 kilogram dengan  panjangnya bisa mencapai 75 sentimeter itu merupakan iklan asli Kuningan. Menurut penuturan salah satu senior di Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, Ikan purba tersebut hanya hidup di kolam Cibulan, Cigugur, Pasawahan, Linggarjati dan Darmaloka. Kelima kolam tersebut terletak di kaki Gunung Ciremai. 

Menurut penuturan para warga desa sekitar ikan dewa merupakan jelmaan dari prajurit Prabu Siliwangi. Ikan ini sangat dikeramatkan, dan tidak boleh dibunuh atau dimakan. Ketika matipun ikan ini akan dikafani dan dikuburkan dengan baik.

Sungguh pengalaman menarik ketika berkunjung ke tempat ini. Meskipun begitu, kami tidak berenang waktu itu tetapi lebih memilih berphoto dengan ikan dewa, ikan yang dianggap keramat oleh masyarakat kuningan ini.

Untuk dapat berphoto dengan ikan dewa diperlukan bantuan pawang. Pawang ini lah yang membantu menangkapkan ikan dewa, untuk dipinjam sebentar sebagai model dalam jepretan kamera 😃
Untuk jasa si pawang, pengunjung diharapkan memberi sekedarnya.


Tujuh Sumur

Masih di kawasan objek wisata Cibulan terdapat tujuh sumur yang berisi mata air yang mengeluarkan air jernih dan siap minum.
Ketujuh air tersebut dipercaya memiliki khasiat yang baik.
Ketujuh Sumur bernama:
1.Sumur Kejayaan
2.Sumur Keselamatan
3.Sumur Pengabulan
4.Sumur Kemulyaan
5.Sumur Cisadane
6.Sumur Cirencana
7.Sumur Kemudahan

Di sumur itu kalian bisa cuci muka, minum bahkan mandi hehehehe...



Selamat berkunjung ....

Friday, October 13, 2017

Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Membaca pada Siswa Sekolah Dasar

Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Membaca pada Siswa Sekolah Dasar

Merry Christiana
merry.tia@gmail.com

Abstrak

Menanamkan kebiasaan membaca pada siswa adalah upaya yang penting dilakukan karena siswa yang gemar membaca akan memiliki wawasan yang lebih banyak daripada siswa yang tidak gemar membaca. Pentingnya membaca tersebut sayangnya tidak dibarengi dengan penanaman kebiasaan membaca di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar maupun lanjutan, terbukti bahwa pada Maret 2016 berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 mengenai minat membaca. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah (1) untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kebiasaan membaca; (2)untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam mendukung terbentuknya kebiasaan membaca pada siswa adalah;(1) pengelolaan perpustakaan sekolah dengan baik;(2) guru harus terus berupaya agar siswa senang membaca, hal ini dapat dilakukan dengan membawa bahan bacaan yang menarik kedalam kelas;(3) guru dan pustakawan bekerjasama membuat program membaca menyenangkan(4) pustakawan sebagai agen motivasi;(5) Guru meminta bantuan dari orang tua untuk berkesinambungan membiasakan siswa untuk membaca di rumah. Dapat disimpulkan bahwa ketika sekolah berupaya menanamkan kebiasaan membaca pada siswa maka perlu adanya kerjasama yang saling bersinegi antara pihak sekolah dalam hal ini, kepala sekolah, guru dan pustakawan dengan orang tua siswa.

Kata kunci: upaya pihak sekolah, kebiasaan membaca , siswa sekolah dasar

Pendahuluan

Membaca adalah aktivitas yang penting untuk ditanamkan sejak dini pada siswa. Siswa yang mencintai kegiatan membaca akan mendapatkan penambahan wawasan lebih banyak daripada siswa yang tidak menyukai kegiatan membaca. Sehingga dengan membaca sudah barang tentu akan sangat mempengaruhi pencapaian akademik siswa, hal ini terbukti dengan adanya penelitian mengenai hubungan kebiasaan membaca dan pencapaian akademik siswa yang dilakukan oleh Acheaw & Larson (2014:19) melalui penelitian mereka membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara kebiasaan membaca dan prestasi akademik siswa. Kemudian Palani (lewat Acheaw&Larson,2014:3) juga menyatakan bahwa kegiatan membaca yang efektif akan sangat penting dalam menopang pembelajaran yang efektif sehingga berkaitan dengan total proses pendidikan sehingga dengan kata lain kesuksesan akademik memerlukan kesuksesan dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa.
Pada keterampilan abad 21 menurut Partnership for 21st Century Skills (Larson & Miller, 2012:121) siswa dituntut memiliki penguasaan pada mata pelajaran, memiliki keterampilan belajar dan inovasi, memiliki keterampilan pada media informasi dan teknologi dan memiliki keterampilan hidup dan karir. Maka berdasarkan keterampilan tersebut terlihat bahwa kebiasaan siswa dalam membaca akan mendukung tercapainya penguasaan siswa dalam berbagai tuntutan keterampilan abad 21 tersebut. Siswa yang memiliki kebiasaan membaca akan lebih mudah dalam menyerap berbagai ilmu yang bertebaran baik secara offline maupun online seperti yang diketahui bahwa dunia berubah secara cepat dan guru harus dapat menyiapkan siswa dalam menghadapi perubahan dan beradaptasi dengan cepat. Dengan menanamkan siswa untuk terbiasa membaca maka guru telah mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan di masa depan mereka.
Pentingnya membaca tersebut sayangnya tidak dibarengi dengan penanaman kebiasaan membaca di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar maupun lanjutan. Hal tersebut terlihat dari peringkat membaca Indonesia berdasarkan studi Most Littered Nation In the World (Gewati, 2016) yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 mengenai minat membaca. Sungguh sangat miris sekali mengetahui hal tersebut, meskipun kita telah mengetahui pentingnya membaca tetapi hal tersebut belum dibarengi dengan peningkatan minat baca karena para siswa belum memiliki kebiasaan membaca.
Berdasarkan permasalahan diatas maka sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya dituntut untuk berupaya menanamkan kebiasaan membaca ini sejak kecil. Guru diharapkan dapat berkolaborasi dengan orang tua siswa dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak mereka berada di jenjang sekolah dasar. Dengan adanya kerjasama antara guru dan orang tua akan lebih menunjang konsistensi siswa dalam melakukan kegiatan membaca secara berkelanjutan.
Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah (1) untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kebiasaan membaca; (2) untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa. Kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi khalayak banyak pada umumnya dan juga bagi pihak sekolah pada khususnya.

Pembahasan

Pengertian kebiasaan membaca

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2017) salah satu pengertian dari membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Demikian juga menurut Kamah dkk.(2002:6) mengungkapkan bahwa membaca adalah alat untuk belajar dan untuk memperoleh kesenangan, informasi yang terkandung dalam suatu bacaan sehingga mendapat pengetahuan dan pengalaman untuk memenuhi kebutuhan manusia atau seseorang.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa membaca adalah kegiatan belajar dan memperoleh kesenangan dengan cara memahami isi dari yang tertulis sehingga mendapatkan pengetahuan, informasi dan pengalaman. Kebiasaan membaca merupakan kebiasaan yang tercipta dari kegiatan membaca yang dilakukan berulang-ulang sehingga menimbulkan minat terhadap bahan bacaan. Untuk menumbuhkan kebiasaan membaca ini maka diperlukan sinergi antara pihak sekolah dan orang tua sedini mungkin.

Upaya pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa SD

Siswa pada jenjang sekolah dasar pada umumnya berada pada tahapan operasional konkret, menurut Havighurst (lewat Susanto, 2016:73) bahwa pada usia sekolah dasar anak sudah mereaksi rangsangan intelektual atau kemampuan kognitif, seperti membaca, menulis, dan menghitung. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa yang cocok bagi siswa untuk diajarkan dan ditanamkan kebiasaan membaca.
Tetapi pada kenyataannya ketika siswa di sekolah, mereka lebih banyak dihadapkan dengan membaca buku teks pelajaran yang cenderung membosankan. Padahal untuk menanamkan kebiasaan siswa dalam membaca harus dengan meningkatkan minat siswa sehingga merasa tertarik dengan kebiasaan membaca. Menurut Ki Supriyoko (2004) menyatakan bahwa secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interset) dengan kebiasaan membaca (reading habit). Sehingga siswa yang memiliki ketertarikan pada kegiatan membaca akan dengan senang hati mengisi waktu luangnya untuk membaca tanpa harus diperintah oleh guru.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah khususnya guru dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa adalah sebagai berikut:
1.      Perpustakaan sekolah dikelola dengan baik. Seperti yang dikemukakan oleh Rahman dan Nurbiyanti (lewat Irianto & Marimin, 2015:350) fasilitas perpustakaan mempengaruhi minat baca siswa, jadi agar minat membaca siswa meningkat maka sekolah harus menyediakan fasilitas sekolah yang memadai.
2.      Guru harus terus berupaya agar siswa senang membaca, hal ini dapat dilakukan dengan membawa bahan bacaan yang menarik kedalam kelas atau membacakan siswa cerita menarik, menurut Maynard (2010:237) menyatakan bahwa para pendidik memegang peranan besar dalam membuat siswa menyenangi membaca, pendidik berkeyakinan bahwa dengan membawa budaya membaca kedalam kelas dapat memberanikan siswa dalam memiliki kebiasaan membaca yang baik, untuk kemudian dibawa ke rumah.
3.      Guru dan pustakawan bekerjasama membuat program membaca menyenangkan, hal ini dilakukan agar siswa tertarik dengan kegiatan membaca. Menurut Hobbs dkk (2009:42-43) kerjasama antara guru dan pustakawan akan memfasilitasi kebiasaan membaca karena guru mengetahui keterampilan siswanya dan pustakawan mengetahui koleksi perpustakaannya. Seperti yang diketahui secara umum bahwa sekolah lebih banyak menekankan pada membaca buku teks yang menyangkut pelajaran, hal tersebut memang sangat penting dalam pendidikan. Tetapi jika ingin menanamkan kebiasaan membaca pada anak, guru juga harus paham bahwa buku teks bukan satu-satunya sumber belajar siswa. Siswa dapat belajar dengan lebih menyenangkan dengan mempelajari buku lain yang menunjang pemerolehan pengetahuan. Oleh karena itu guru dan pustakawan seharusnya saling bersinergi dalam membuat program membaca yang menyenangkan, menghibur,dan produktif. Dalam membuat program efektif dalam meningkatkan kesenangan membaca menurut beberapa ahli (lewat Dominguez, 2015:2) harus memperhatikan karakteristik, kebutuhan dan minat siswa, sehingga bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan dapat mengakomodir minat baca siswa.
4.      Pustakawan sebagai agen motivasi, dalam menanamkan kebiasaan membaca tidak hanya guru di kelas yang memiliki kontribusi besar melainkan juga pustakawan sekolah. Pustakawan sekolah dapat menjadi model dalam membaca dengan cara mencontohkan kepada anak kelas rendah (1 sampai dengan 3) cara membaca yang tepat, seperti mengulang huruf dan pengucapannnya, pustakawan sekolah juga dapat membacakan cerita kesukaan siswa sebagai pemancing rasa ingin tahu siswa untuk selanjutnya mereka melanjutkan bacaan tersebut. Banyak hal yang dapat dilakukan pustakawan sekolah yang kemudian dapat membantu guru kelas dalam membentuk kebiasaan membaca siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dominguez dkk. (2015:3) bahwa pustakawan sekolah memegang peranan penting sebagai agen motivasi dan strategi membaca, hal tersebut dilakukan pustakawan dengan mengadakan, program perpustakaan mingguan, membacakan cerita, dan juga pameran buku. Kegiatan yang dilakukan tersebut terbukti meningkatkan jumlah ketertarikan siswa dalam membaca.
5.      Meminta bantuan dari orang tua untuk berkesinambungan membiasakan siswa untuk membaca di rumah. Dalam hal ini guru dapat memberi siswa tugas membaca bulanan, sehingga untuk memantau siswa membaca diperlukan bantuan dari orang tua dalam mengawasinya. Capotosto dkk.(2017:8) menyatakan bahwa dalam memfokuskan anak membaca, orang tua memegang peranan dalam mengurangi distraksi di rumah seperti dengan mengatur pembatasan tv dan menjauhkan video game. Berdasarkan temuan tersebut terlihat bahwa jika pihak sekolah berusaha menanamkan kebiasaan membaca dalam diri anak, maka pihak sekolah perlu melibatkan orang tua dalam bekerjasama mewujudkannya.
Kelima upaya tersebut jika dilaksanakan secara menyeluruh diyakini dapat menghasilkan siswa yang memiliki kebiasaan membaca karena upaya sekolah yang secara menyeluruh memaksimalkan guru dan pustakawan sekolah berkerjasama dalam selalu melibatkan siswa berinteraksi dengan buku dan memberi pengarahan kepada orang tua untuk juga berkerjasama dengan pihak sekolah dalam memantau kegiatan membaca siswa ketika di rumah, lambat laun akan menciptakan pola kecintaan membaca pada siswa yang akhirnya menyebabkan kebiasaan membaca terbentuk.

Simpulan

Setelah menelaah berbagai literatur kajian mengenai penanaman kebiasaan membaca maka penanaman kebiasaan membaca sejak dini dalam hal ini sekolah dasar mungkin untuk dilakukan. Upaya penanaman kebiasaan membaca oleh sekolah yang baru ingin ditanamkan di Indonesia, telah jauh-jauh hari menjadi upaya yang dilakukan di luar negeri. Oleh karena itu upaya ini memang perlu dilakukan sejak dini.
Sekolah di Indonesia seperti yang diketahui secara umum memiliki keterbatasan pada fasilitas dan koleksi buku perpustakaan. Tidak semua perpustakaan di sekolah dasar negeri memiliki koleksi buku yang menunjang, perpustakaan sekolah dipelosok tentu sangat berbeda jauh fasilitasnya dengan sekolah di pusat sekolah. Oleh karena itu bagaimana upaya sekolah dalam meminimalisir hambatan-hambatan tersebut agar tidak menghalangi upaya dalam penanaman kebiasaan membaca di sekolah dasar.
Terakhir yang paling penting ketika sekolah ingin menanamkan kebiasaan membaca maka perlu adanya kerjasama yang saling bersinegi antara pihak sekolah dalam hal ini, kepala sekolah, guru dan pustakawan dengan orang tua di rumah. Hasil kerjasama tersebut diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan siswa agar terus bersinggungan dengan buku.

Daftar Pustaka

Larson, Lotta C & Miller,Teresa N.2012. “21st Century Skills: Prepare Students for The Future”, dalam Kappa Delta Pi Record, Spring, 2011, hlm.121-123.
Acheaw,Owusu M. & Larson, Agatha G.2014. “Reading Habits Among Students and its Effect on Academic Performance: A Study of Students of Koforidua Polytechnic”, dalam Library Philosophy and Practice (e-journal), hlm.1-22.
Kamah, Idris dkk.2002. Pedoman Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI
Gewati, Mikhael. 2016. Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke 60 Dunia. http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia, diunduh 12 Oktober 2017.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2017. https://kbbi.web.id/baca.html, diunduh 12 Oktober 2017.
Susanto, A. 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.
Ki Supriyoko. 2004. Minat Baca dan Kualitas Bangsa.Jakarta: Harian Kompas, Selasa, 23 Maret 2004.
Irianto, Rudi & Marimin. 2015. “Pengaruh Fasilitas Perpustakaan dan Kinerja Pustakawan Terhadap Minat Baca Siswa SMK Negeri 9 Semarang Tahun 2014/2015”, dalam Economic Education Analysis Journal,4 (2), hlm. 347-361.
Maynard, Sally. 2010. “The Impact of E-Books on Young Children’s Reading Habits”, dalam Pub Res Q, Springer,(26), hlm. 236-248.
Hobbs N, Oleynik M & Sacco K. 2009. “Reading: Making It Personal Again”, dalam Now Serving PIE to Hungry Readers. School Library Monthly, 26 (3),hlm. 42-44.
Dominguez, Noraida, dkk. 2015. “The School Librarian as Motivational Agent and Strategist for Reading Appreciation”, dalam Journal of Librarianship and Information Science, 1 (11), hlm.1-8.
Capotosto, Lauren, dkk. 2017. “Family Support of Third-Grade Reading Skills, Motivation, and Habits”, dalam AERA Open, 3 (3), hlm.1-16.