Friday, July 5, 2019

Merry Christiana: Pengertian Kurikulum

Merry Christiana: Pengertian Kurikulum: Para ahli kurikulum tidak henti-hentinya mencurahkan ide dan gagasannya dalam pengembangan kurikulum. Ide atau konsep kurikulum bersifat di...

Merry Christiana: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Mem...

Merry Christiana: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Mem...: Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Membaca pada Siswa Sekolah Dasar Merry Christiana merry.tia@gmail.com Abstrak ...

Wednesday, July 3, 2019

Generasi Muda Impian, Generasi Peduli Lingkungan


Dalam dunia pendidikan di Indonesia pendidikan karakter di integrasikan kedalam kurikulum yang dimulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi.Pusat kurikulum pengembangan dan pendidikan budaya dan karakter bangsa: Pedoman Sekolah menyatakan bahwa ada 18 nilai pendidikan karakter dan sikap peduli lingkungan sekitar adalah satu diantara kedelapanbelas sikap tersebut (Narwanti dalam Aryani: 2014)

Senada dengan pernyataan diatas Goleman juga berpendapat “Research studies examining the influence of an environment based context have revealed similar encouraging findings with respect to academis performance (2012). Penelitian lebih lanjut pun meneliti bahwa pendidikan berbasis lingkungan dapat mendukung akademik siswa. Jadi penanaman sikap peduli lingkungan sekitar menjadi hal penting yang harus diterapkan sejak dini karena di masa ini lah siswa lebih mudah menyerap segala yang ditanamkan di pemikirannya. Sikap peduli lingkungan juga merupakan salah satu bentuk kecerdasan ekoliterasi. Sejalan dengan ini Goleman menyatakan bahwa ada dua dimensi yang terkait dengan ekologis, yaitu empati kepada semua bentuk kehidupan dan kognitif, yaitu bagaimana kita memahami bagaimana alam bertahan (2012). Dari pernyataan tersebut membimbing kita akan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar yang tercermin dalam empati dan memahami bagaimana alam berubah.

Masih menurut Goleman (2012)”Social and emotional learning was embraced by many schools on the promise that helping children develop the capacities for self awareness and relationship management would increase their likelyhood of success in school and in life”

Jadi bukan isu baru lagi untuk sekolah bahkan sekolah di luar negeri dalam menanamkan sikap kepedulian kepada anak didiknya dengan harapan menjadi bekal mereka saat menjadi siswa dan lebih lanjut dalam nilai yang dimiliki seumur hidupnya.

Pendidikan karakter peduli lingkungan diharapkan mampu menanamkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan. Sikap peduli tersebut diharapkan mampu membuat siswa lebih arif terhadap lingkungan. Berdasarkan beberapa penelitian terdapat hubungan signifikan antara pemahaman peduli lingkungan dengan menciptakan generasi muda yang ekoliterasi (Kresnawati:2013)

Menurut Nenggala (2007) indikator seseorang peduli lingkungan adalah:

1.  Selalu menjaga kelestarian lingkungan sekitar

2.  Tidak mengambil, menebang atau mencabut tumbuhan di sepanjang perjalanan

3.  Tidak mencorat-coret,  menorehkan tulisan pada pohon, batu-batu di jalan atau 
     dinding

4.   Selalu membuang sampah pada tempatnya

5.   Tidak membakar sampah di sekitar perumahan

6.   Melaksanakan kegiatan membersihkan lingkungan

7.   Menimbun barang-barang bekas

8.   Membersihkan sampah-sampah yang menyumbat saluran air

Dari indikator diatas pendidik dapat mengarahkan siswa agar memiliki sifat peduli lingkungan yang tercermin dalam tindakannya. Pendidik memiliki posisi penting dalam penanaman karakter peduli lingkungan, karena pendidik adalah tonggak awal agen perwujudan generasi impian, generasi peduli lingkungan.

Tuesday, July 2, 2019

Konsep Pembangunan Karakter Dan Kepribadian Bangsa



Istilah karakter bangsa identik dengan “national character” yang erat kaitannya dengan masalah kepribadian dalam psikologi sosial (Sapriya, 2008: 205). Menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa (2010: 7) karakter bangsa adalah:   Kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang atau sekelompok orang. De Vos (Budimansyah dan Suryadi, 2008:77-78) menyatakan bahwa karakter bangsa yaitu  the term ‘national character’ is used describe the enduring personality characteristics and unique life style found among the populations particular nations state’ dengan kata lain bahwa karakter bangsa digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri kepribadian yang tetap dan gaya hidup yang khas yang ditemui pada penduduk negara bangsa tertentu. Karena hal ini terkait dengan masalah kepribadian yang merupakan bagian dari aspek kejiwaan. Diakui oleh De Vos bahwa dalam konteks perilaku, karakter bangsa dianggap sebagai istilah yang abstrak yang terikat oleh aspek budaya dan termasuk dalam mekanisme psikologis yang menjadi karakteristik masyarakat tertentu. 
Pembangunan karakter bangsa merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan proses membina, memperbaiki, dan mewarisi warga negara tentang konsep, perilaku, dan nilai luhur budaya Indonesia yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sehingga terinternalisasi dalam diri individu dan terbentuk warga negara yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ipteks yang semuanya didasari oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter seseorang dalam proses perkembangan dan pembentukannya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan factor bawaan (nature). Faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan disebut faktor bawaan (nature), sedangkan factor lingkungan (nurture) menunjukkan dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan.
Bangsa Indonesia sampai saat ini belum optimal dalam upaya membangun karakter warga negara, bahkan setiap saat kita saksikan berbagai macam tindakan masyarakat yang berakibat pada kehancuran suatu bangsa yakni; menurunnya perilaku sopan santun, menurunnya perilaku kejujuran, menurunnya  rasa kebersamaan, dan menurunnya rasa gotong royong diantara anggota masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut  menurut Lickona (1992:32) terdapat 10 tanda dari perilaku manusia yang menunjukan arah kehancuran suatu bangsa yaitu:   
1)      meningkatnya kekerasan dikalangan remaja;
2)      ketidakjujuran yang membudaya;
3)      semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru dan figur pemimpin;
4)      pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan;
5)      meningkatnya kecurigaan dan kebencian,
6)      penggunaan bahasa yang memburuk;
7)      penurunan etos kerja;
8)      menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara;
9)      meningginya perilaku merusak diri; dan
10)  semakin kaburnya pedoman moral.
Rumusan pemikiran Thomas Lickona yang telah dituangkannya pada puluhan tahun lalu itu ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Ke-sepuluh tanda perilaku manusia tersebut sangat mudah kita temui dalam kehidupan masyarakat saat ini. Apakah bangsa ini sedang berada pada jalur kehancuran? Kini saatnya kita bergerak bersama. Pembangunan karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah dibutuhkan. Pembangunan karakter bangsa dapat ditempuh dengan cara  mentransformasi nilai-nial budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa. Pentingnya transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa adalah sebagai berikut (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 1):
1)   Secara filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang kuat yang akan eksis;
2)   Secara ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejewantahkan ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif, pembangunan karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara;
3)   Secara historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah, baik pada zaman penjajah, maupan pada zaman kemerdekaan;
4)   Secara sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu bangsa yang multikultural.
Dalam upaya pembangunan karakter bangsa apabila kurang memperhatikan  nilai-nilai budaya bangsa Indonesia maka akan berakibat pada ketidakpastian jati diri bangsa yang menurut Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia (2010:2) tentang “Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025” akan terjadi:
1)   Disorientasi  dan belum dihayati nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa,
2)   Keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila,
3)   Bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
4)   Memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan bernegara,
5)   Ancaman disintegrasi bangsa, dan
6)   Melemahnya kemandirian bangsa.
  Berdasarkan hal tersebut di atas, pembangunan karakter bangsa melibatkan berbagai pihak baik keluarga, lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil selama pihak-pihak yang berkompeten untuk menunjang pembangunan karakter tersebut tidak saling bekerja sama. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa perlu dilakukan di luar sekolah atau pada masyarakat secara umum sesuai dengan kearifan budaya lokal masing-masing.

Monday, July 1, 2019

Mengaplikasikan teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran


  Ketika guru ingin mengaplikasikan teori behavioristik ke dalam kegiatan pembelajaran, hal pertama yang harus dipahami adalah teori belajar behavioristik menekankan pada hubungan stimulus dan respons dan siswa diposisikan sebagai pihak yang pasif. Respons yang dihasilkan semata berdasarkan hasil dari pembiasaan atau drill yang dikondisikan. 

Jika diperkecil lagi  menjadi bagian-bagian penting maka teori belajar behavioristik memiliki beberapa  unsur  yang sangat mendasar yaitu hubungan stimulus dan respon, pembentukan perilaku, perilaku sebagai hasil belajar, reinforcement dan hukuman.

Setelah memahami inti dari teori belajar behavioristik maka guru dapat mulai merancang pembelajaran dan kemudian mengaplikasikannya dengan memperhatikan unsur-unsur penting dari behavioristik tersebut. Dalam mengaplikasikan teori belajar behavioristik guru harus mengetahui tujuan apa yang ingin dicapai dalam pembelajarannya. Guru juga harus mempertimbangkan sifat materi pelajaran yang akan diajarkan, apakah cocok dan memungkinkan  jika menggunakan teori belajar behavioristik. Guru juga harus mengetahui karakteristik siswanya dan penggunaan media serta fasilitas apa yang cocok dengan karakteristik siswa dan teori belajar behavioristik. Mengaplikasian teori belajar behavioristik ke dalam pelajaran sebenarnya seperti mengajarkan siswa dengan terlebih dahulu memberi mereka bingkai aturan yang jelas, dan siswa diarahkan untuk mengikuti aturan tersebut, melalui berbagai kegiatan yang bertujuan untuk membentuk perilaku siswa melalui pembiasaan. Jika dalam pembelajaran terdapat hal yang diluar aturan yang ditentukan guru maka siswa harus diberi hukuman, sebaliknya jika pembelajaran berjalan sesuai tujuan yang diharapkan guru, maka siswa dapat diberi penguatan, seperti pemberian hadiah.

Sunday, June 30, 2019

Bagaimana sebaiknya sikap guru-guru di daerah terpencil menghadapi pembejaran di era teknologi



Guru di daerah terpencil tentu memiliki banyak sekali keterbatasan jika dilihat dari sisi teknologi. Banyak guru didaerah terpencil yang belum mampu mengoperasikan komputer. Lantas bagaimana ketika mereka menghadapi era teknologi yang sangat pesat perkembangannya dewasa ini. Tentu dalam hal ini peran beberapa pihak diperlukan. Guru daerah terpencil yang tidak memiliki akses internet bahkan sinyal, harus kerja extra keras untuk memperluas pengetahuan dan kompetensinya sebagai guru, jika mengharapkan guru daerah terpencil untuk rutin ke kota, tentu tidak bisa, karena pengeluaran mereka ketika ke kota atau ke tempat yang memiliki akses sinyal internet biasanya membutuhkan uang yang tidak sedikit, tetapi itu semua dapat diakali dengan mencatat apa saja yang akan diakses ketika dalam satu bulan memiliki jatah untuk ke kota, entah untuk membeli beras dan belanja sehari-hari untuk di stock d daerah terpencil selama masa pengabdian, atau ketika harus berurusan ke Dinas Pendidikan kab/kota, maka to do list yang sudah dibuat selama berada di daerah terpencil langsung dilaksanakan ketika masa ke kota ini. Hal ini dilaksanakan agar guru meskipun berada di daerah terpencil tetapi tidak membuat mereka terkurung ke dalam kurangnya pengetahuan dan pengembangan kompetensi diri sebagai guru.

Dan tentu saja pemerintah pun seharusnya memberi perhatian lebih kepada guru yang berada di daerah terpencil ini, mengingat jasa mereka yang banyak dalam memberantas buta huruf dan miskinnya pendidikan di daerah terpencil, pemerintah seharusnya memfasilitasi guru-guru terpencil ini untuk mampu mengembangkan diri,seperti memberi pelatihan mengoperasikan komputer dan internet, memberi beasiswa melanjutkan kuliah untuk guru terpencil dan masih banyak lagi. Selama ini pemerintah sudah mulai memberi perhatian khusus untuk guru daerah terpencil dengan menempatkan Guru Garda Depan di wilayah SM3T dan memberi tunjangan kepada guru daerah terpencil. Tetapi disayangkan, biaya hidup guru daerah terpencil ketika harus menuju ke kotapun sangat besar, alhasil tunjangan daerah terpencil tersebut hanya cukup untuk sehari-hari dan transportasi mereka saja.

Oleh karena itu diperlukan motivasi yang kuat untuk tidak tertinggal dalam hal teknologi meskipun berada di daerah terpencil, dan menyusun strategi sehingga meskipun berada di daerah terpencil, para guru tetap mampu mengakses teknologi, menambah wawasan, meski hal itu hanya dapat dilakukan sebulan sekali ketika berada dikota.