Istilah
karakter bangsa identik dengan “national
character” yang erat kaitannya dengan masalah kepribadian dalam psikologi
sosial (Sapriya, 2008: 205). Menurut Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa
(2010: 7) karakter bangsa adalah:
Kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang unik-baik tercermin dalam
kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara dari
hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olah raga seseorang
atau sekelompok orang. De Vos (Budimansyah dan Suryadi, 2008:77-78) menyatakan
bahwa karakter bangsa yaitu ‘the term ‘national character’ is used
describe the enduring personality characteristics and unique life style found
among the populations particular nations state’ dengan kata lain bahwa
karakter bangsa digunakan untuk mendeskripsikan ciri-ciri kepribadian yang
tetap dan gaya hidup yang khas yang ditemui pada penduduk negara bangsa
tertentu. Karena hal ini terkait dengan masalah kepribadian yang merupakan
bagian dari aspek kejiwaan. Diakui oleh De Vos bahwa dalam konteks perilaku,
karakter bangsa dianggap sebagai istilah yang abstrak yang terikat oleh aspek
budaya dan termasuk dalam mekanisme psikologis yang menjadi karakteristik
masyarakat tertentu.
Pembangunan
karakter bangsa merupakan hal yang sangat penting karena berhubungan dengan
proses membina, memperbaiki, dan mewarisi warga negara tentang
konsep, perilaku, dan nilai luhur budaya Indonesia yang dijiwai oleh
nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sehingga terinternalisasi dalam diri
individu dan terbentuk warga negara yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia,
bermoral, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik,
berkembang dinamis, berorientasi ipteks yang semuanya didasari oleh iman dan
takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Karakter
seseorang dalam proses perkembangan dan pembentukannya dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture)
dan factor bawaan (nature). Faktor
yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan disebut faktor bawaan (nature), sedangkan factor lingkungan (nurture) menunjukkan dimana orang yang
bersangkutan tumbuh dan berkembang. Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan
karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta
didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh
faktor lingkungan ini. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan
dapat dilakukan melalui strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3)
pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan.
Bangsa Indonesia sampai
saat ini belum optimal dalam upaya membangun karakter warga negara, bahkan
setiap saat kita saksikan berbagai macam tindakan masyarakat yang berakibat
pada kehancuran suatu bangsa yakni; menurunnya perilaku sopan santun,
menurunnya perilaku kejujuran, menurunnya
rasa kebersamaan, dan menurunnya rasa gotong royong diantara anggota
masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut
menurut Lickona (1992:32) terdapat 10 tanda dari perilaku manusia yang
menunjukan arah kehancuran suatu bangsa yaitu:
1) meningkatnya
kekerasan dikalangan remaja;
2) ketidakjujuran
yang membudaya;
3) semakin
tingginya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru dan figur pemimpin;
4) pengaruh
peer group terhadap tindakan
kekerasan;
5) meningkatnya
kecurigaan dan kebencian,
6) penggunaan
bahasa yang memburuk;
7) penurunan
etos kerja;
8) menurunnya
rasa tanggungjawab individu dan warga negara;
9) meningginya
perilaku merusak diri; dan
10) semakin
kaburnya pedoman moral.
Rumusan pemikiran
Thomas Lickona yang telah dituangkannya pada puluhan tahun lalu itu ternyata
bukan hanya isapan jempol belaka. Ke-sepuluh tanda perilaku manusia tersebut
sangat mudah kita temui dalam kehidupan masyarakat saat ini. Apakah bangsa ini
sedang berada pada jalur kehancuran? Kini saatnya kita bergerak bersama. Pembangunan
karakter bangsa melalui budaya lokal sangatlah dibutuhkan. Pembangunan karakter
bangsa dapat ditempuh dengan cara
mentransformasi nilai-nial budaya lokal sebagai salah satu sarana untuk
membangun karakter bangsa. Pentingnya transformasi nilai-nilai budaya lokal
sebagai salah satu sarana untuk membangun karakter bangsa adalah sebagai
berikut (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 1):
1) Secara
filosofis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah kebutuhan asasi dalam
proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati diri yang
kuat yang akan eksis;
2) Secara
ideologis, pembangunan karakter merupakan upaya mengejewantahkan ideologi
Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara normatif, pembangunan
karakter bangsa merupakan wujud nyata langkah mencapai tujuan negara;
3) Secara
historis, pembangunan karakter bangsa merupakan sebuah dinamika inti proses
kebangsaan yang terjadi tanpa henti dalam kurun sejarah, baik pada zaman
penjajah, maupan pada zaman kemerdekaan;
4) Secara
sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu keharusan dari suatu
bangsa yang multikultural.
Dalam upaya pembangunan
karakter bangsa apabila kurang memperhatikan
nilai-nilai budaya bangsa Indonesia maka akan berakibat pada
ketidakpastian jati diri bangsa yang menurut Kebijakan Pemerintah Republik
Indonesia (2010:2) tentang “Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa Tahun
2010-2025” akan terjadi:
1) Disorientasi dan belum dihayati nilai-nilai Pancasila
sebagai filosofi dan ideologi bangsa,
2) Keterbatasan
perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila,
3) Bergesernya
nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
4) Memudarnya
kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan bernegara,
5) Ancaman
disintegrasi bangsa, dan
6) Melemahnya
kemandirian bangsa.
Berdasarkan hal tersebut di atas, pembangunan
karakter bangsa melibatkan berbagai pihak baik keluarga, lingkungan sekolah,
serta masyarakat luas. Pembangunan karakter bangsa tidak akan berhasil selama
pihak-pihak yang berkompeten untuk menunjang pembangunan karakter tersebut
tidak saling bekerja sama. Oleh karena itu, pembangunan karakter bangsa perlu
dilakukan di luar sekolah atau pada masyarakat secara umum sesuai dengan
kearifan budaya lokal masing-masing.
No comments:
Post a Comment