Upaya Pihak Sekolah dalam Menanamkan Kebiasaan Membaca pada
Siswa Sekolah Dasar
Merry Christiana
merry.tia@gmail.com
Abstrak
Menanamkan
kebiasaan membaca pada siswa adalah upaya yang penting dilakukan karena siswa
yang gemar membaca akan memiliki wawasan yang lebih banyak daripada siswa yang
tidak gemar membaca. Pentingnya membaca tersebut sayangnya tidak dibarengi
dengan penanaman kebiasaan membaca di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar
maupun lanjutan, terbukti bahwa pada Maret 2016 berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang
dilakukan oleh Central Connecticut State
University, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 mengenai minat
membaca. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah (1) untuk mengetahui apa
yang dimaksud dengan kebiasaan membaca; (2)untuk mengetahui upaya yang dapat
dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa. Beberapa
upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam mendukung terbentuknya kebiasaan
membaca pada siswa adalah;(1) pengelolaan perpustakaan sekolah dengan baik;(2)
guru harus terus berupaya agar siswa senang membaca, hal ini dapat dilakukan
dengan membawa bahan bacaan yang menarik kedalam kelas;(3) guru dan pustakawan
bekerjasama membuat program membaca menyenangkan(4) pustakawan sebagai agen
motivasi;(5) Guru meminta bantuan dari orang tua untuk berkesinambungan
membiasakan siswa untuk membaca di rumah. Dapat disimpulkan bahwa ketika
sekolah berupaya menanamkan kebiasaan membaca pada siswa maka perlu adanya
kerjasama yang saling bersinegi antara pihak sekolah dalam hal ini, kepala
sekolah, guru dan pustakawan dengan orang tua siswa.
Kata kunci: upaya pihak sekolah, kebiasaan
membaca , siswa sekolah dasar
Pendahuluan
Membaca adalah aktivitas yang penting untuk
ditanamkan sejak dini pada siswa. Siswa yang mencintai kegiatan membaca akan
mendapatkan penambahan wawasan lebih banyak daripada siswa yang tidak menyukai
kegiatan membaca. Sehingga dengan membaca sudah barang tentu akan sangat
mempengaruhi pencapaian akademik siswa, hal ini terbukti dengan adanya
penelitian mengenai hubungan kebiasaan membaca dan pencapaian akademik siswa
yang dilakukan oleh Acheaw & Larson (2014:19) melalui penelitian mereka
membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara kebiasaan membaca dan
prestasi akademik siswa. Kemudian Palani (lewat Acheaw&Larson,2014:3) juga
menyatakan bahwa kegiatan membaca yang efektif akan sangat penting dalam
menopang pembelajaran yang efektif sehingga berkaitan dengan total proses
pendidikan sehingga dengan kata lain kesuksesan akademik memerlukan kesuksesan
dalam menanamkan kebiasaan membaca pada siswa.
Pada
keterampilan abad 21 menurut Partnership
for 21st Century Skills (Larson & Miller, 2012:121) siswa dituntut
memiliki penguasaan pada mata pelajaran, memiliki keterampilan belajar dan
inovasi, memiliki keterampilan pada media informasi dan teknologi dan memiliki
keterampilan hidup dan karir. Maka berdasarkan keterampilan tersebut terlihat
bahwa kebiasaan siswa dalam membaca akan mendukung tercapainya penguasaan siswa
dalam berbagai tuntutan keterampilan abad 21 tersebut. Siswa yang memiliki
kebiasaan membaca akan lebih mudah dalam menyerap berbagai ilmu yang bertebaran
baik secara offline maupun online seperti yang diketahui bahwa
dunia berubah secara cepat dan guru harus dapat menyiapkan siswa dalam
menghadapi perubahan dan beradaptasi dengan cepat. Dengan menanamkan siswa
untuk terbiasa membaca maka guru telah mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi
aktif dalam kehidupan di masa depan mereka.
Pentingnya
membaca tersebut sayangnya tidak dibarengi dengan penanaman kebiasaan membaca
di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar maupun lanjutan. Hal tersebut
terlihat dari peringkat membaca Indonesia berdasarkan studi Most Littered Nation In the World
(Gewati, 2016) yang dilakukan oleh Central
Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia berada pada
peringkat 60 dari 61 mengenai minat membaca. Sungguh sangat miris sekali
mengetahui hal tersebut, meskipun kita telah mengetahui pentingnya membaca tetapi
hal tersebut belum dibarengi dengan peningkatan minat baca karena para siswa
belum memiliki kebiasaan membaca.
Berdasarkan
permasalahan diatas maka sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya dituntut
untuk berupaya menanamkan kebiasaan membaca ini sejak kecil. Guru diharapkan
dapat berkolaborasi dengan orang tua siswa dalam menanamkan kebiasaan membaca
sejak mereka berada di jenjang sekolah dasar. Dengan adanya kerjasama antara
guru dan orang tua akan lebih menunjang konsistensi siswa dalam melakukan kegiatan
membaca secara berkelanjutan.
Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah (1) untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan kebiasaan membaca; (2) untuk mengetahui
upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan membaca
pada siswa. Kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi khalayak banyak pada
umumnya dan juga bagi pihak sekolah pada khususnya.
Pembahasan
Pengertian kebiasaan membaca
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2017) salah satu pengertian dari membaca adalah
melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya
dalam hati). Demikian juga menurut Kamah dkk.(2002:6) mengungkapkan bahwa
membaca adalah alat untuk belajar dan untuk memperoleh kesenangan, informasi
yang terkandung dalam suatu bacaan sehingga mendapat pengetahuan dan pengalaman
untuk memenuhi kebutuhan manusia atau seseorang.
Sehingga
dapat disimpulkan bahwa membaca adalah kegiatan belajar dan memperoleh
kesenangan dengan cara memahami isi dari yang tertulis sehingga mendapatkan pengetahuan,
informasi dan pengalaman. Kebiasaan membaca merupakan kebiasaan yang tercipta
dari kegiatan membaca yang dilakukan berulang-ulang sehingga menimbulkan minat
terhadap bahan bacaan. Untuk menumbuhkan kebiasaan membaca ini maka diperlukan
sinergi antara pihak sekolah dan orang tua sedini mungkin.
Upaya pihak sekolah dalam menanamkan kebiasaan
membaca pada siswa SD
Siswa
pada jenjang sekolah dasar pada umumnya berada pada tahapan operasional
konkret, menurut Havighurst (lewat Susanto, 2016:73) bahwa pada usia sekolah
dasar anak sudah mereaksi rangsangan intelektual atau kemampuan kognitif,
seperti membaca, menulis, dan menghitung. Berdasarkan pendapat tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa yang cocok bagi
siswa untuk diajarkan dan ditanamkan kebiasaan membaca.
Tetapi
pada kenyataannya ketika siswa di sekolah, mereka lebih banyak dihadapkan
dengan membaca buku teks pelajaran yang cenderung membosankan. Padahal untuk
menanamkan kebiasaan siswa dalam membaca harus dengan meningkatkan minat siswa
sehingga merasa tertarik dengan kebiasaan membaca. Menurut Ki Supriyoko (2004)
menyatakan bahwa secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interset) dengan kebiasaan
membaca (reading habit). Sehingga siswa
yang memiliki ketertarikan pada kegiatan membaca akan dengan senang hati
mengisi waktu luangnya untuk membaca tanpa harus diperintah oleh guru.
Beberapa
upaya yang dapat dilakukan pihak sekolah khususnya guru dalam menanamkan
kebiasaan membaca pada siswa adalah sebagai berikut:
1.
Perpustakaan
sekolah dikelola dengan baik. Seperti yang dikemukakan oleh Rahman dan
Nurbiyanti (lewat Irianto & Marimin, 2015:350) fasilitas perpustakaan
mempengaruhi minat baca siswa, jadi agar minat membaca siswa meningkat maka
sekolah harus menyediakan fasilitas sekolah yang memadai.
2.
Guru
harus terus berupaya agar siswa senang membaca, hal ini dapat dilakukan dengan
membawa bahan bacaan yang menarik kedalam kelas atau membacakan siswa cerita
menarik, menurut Maynard (2010:237) menyatakan bahwa para pendidik memegang
peranan besar dalam membuat siswa menyenangi membaca, pendidik berkeyakinan
bahwa dengan membawa budaya membaca kedalam kelas dapat memberanikan siswa
dalam memiliki kebiasaan membaca yang baik, untuk kemudian dibawa ke rumah.
3.
Guru
dan pustakawan bekerjasama membuat program membaca menyenangkan, hal ini
dilakukan agar siswa tertarik dengan kegiatan membaca. Menurut Hobbs dkk
(2009:42-43) kerjasama antara guru dan pustakawan akan memfasilitasi kebiasaan
membaca karena guru mengetahui keterampilan siswanya dan pustakawan mengetahui
koleksi perpustakaannya. Seperti yang diketahui secara umum bahwa sekolah lebih
banyak menekankan pada membaca buku teks yang menyangkut pelajaran, hal
tersebut memang sangat penting dalam pendidikan. Tetapi jika ingin menanamkan
kebiasaan membaca pada anak, guru juga harus paham bahwa buku teks bukan
satu-satunya sumber belajar siswa. Siswa dapat belajar dengan lebih
menyenangkan dengan mempelajari buku lain yang menunjang pemerolehan pengetahuan.
Oleh karena itu guru dan pustakawan seharusnya saling bersinergi dalam membuat
program membaca yang menyenangkan, menghibur,dan produktif. Dalam membuat
program efektif dalam meningkatkan kesenangan membaca menurut beberapa ahli
(lewat Dominguez, 2015:2) harus memperhatikan karakteristik, kebutuhan dan
minat siswa, sehingga bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan dapat
mengakomodir minat baca siswa.
4.
Pustakawan
sebagai agen motivasi, dalam menanamkan kebiasaan membaca tidak hanya guru di
kelas yang memiliki kontribusi besar melainkan juga pustakawan sekolah. Pustakawan
sekolah dapat menjadi model dalam membaca dengan cara mencontohkan kepada anak
kelas rendah (1 sampai dengan 3) cara membaca yang tepat, seperti mengulang
huruf dan pengucapannnya, pustakawan sekolah juga dapat membacakan cerita
kesukaan siswa sebagai pemancing rasa ingin tahu siswa untuk selanjutnya mereka
melanjutkan bacaan tersebut. Banyak hal yang dapat dilakukan pustakawan sekolah
yang kemudian dapat membantu guru kelas dalam membentuk kebiasaan membaca
siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dominguez dkk. (2015:3) bahwa
pustakawan sekolah memegang peranan penting sebagai agen motivasi dan strategi
membaca, hal tersebut dilakukan pustakawan dengan mengadakan, program perpustakaan
mingguan, membacakan cerita, dan juga pameran buku. Kegiatan yang dilakukan
tersebut terbukti meningkatkan jumlah ketertarikan siswa dalam membaca.
5.
Meminta
bantuan dari orang tua untuk berkesinambungan membiasakan siswa untuk membaca
di rumah. Dalam hal ini guru dapat memberi siswa tugas membaca bulanan,
sehingga untuk memantau siswa membaca diperlukan bantuan dari orang tua dalam
mengawasinya. Capotosto dkk.(2017:8) menyatakan bahwa dalam memfokuskan anak
membaca, orang tua memegang peranan dalam mengurangi distraksi di rumah seperti
dengan mengatur pembatasan tv dan menjauhkan video game. Berdasarkan temuan tersebut terlihat bahwa jika pihak
sekolah berusaha menanamkan kebiasaan membaca dalam diri anak, maka pihak
sekolah perlu melibatkan orang tua dalam bekerjasama mewujudkannya.
Kelima
upaya tersebut jika dilaksanakan secara menyeluruh diyakini dapat menghasilkan
siswa yang memiliki kebiasaan membaca karena upaya sekolah yang secara
menyeluruh memaksimalkan guru dan pustakawan sekolah berkerjasama dalam selalu
melibatkan siswa berinteraksi dengan buku dan memberi pengarahan kepada orang
tua untuk juga berkerjasama dengan pihak sekolah dalam memantau kegiatan
membaca siswa ketika di rumah, lambat laun akan menciptakan pola kecintaan
membaca pada siswa yang akhirnya menyebabkan kebiasaan membaca terbentuk.
Simpulan
Setelah
menelaah berbagai literatur kajian mengenai penanaman kebiasaan membaca maka
penanaman kebiasaan membaca sejak dini dalam hal ini sekolah dasar mungkin
untuk dilakukan. Upaya penanaman kebiasaan membaca oleh sekolah yang baru ingin
ditanamkan di Indonesia, telah jauh-jauh hari menjadi upaya yang dilakukan di
luar negeri. Oleh karena itu upaya ini memang perlu dilakukan sejak dini.
Sekolah
di Indonesia seperti yang diketahui secara umum memiliki keterbatasan pada
fasilitas dan koleksi buku perpustakaan. Tidak semua perpustakaan di sekolah
dasar negeri memiliki koleksi buku yang menunjang, perpustakaan sekolah
dipelosok tentu sangat berbeda jauh fasilitasnya dengan sekolah di pusat sekolah.
Oleh karena itu bagaimana upaya sekolah dalam meminimalisir hambatan-hambatan
tersebut agar tidak menghalangi upaya dalam penanaman kebiasaan membaca di
sekolah dasar.
Terakhir yang paling
penting ketika sekolah ingin menanamkan kebiasaan membaca maka perlu adanya
kerjasama yang saling bersinegi antara pihak sekolah dalam hal ini, kepala
sekolah, guru dan pustakawan dengan orang tua di rumah. Hasil kerjasama
tersebut diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan siswa agar terus bersinggungan
dengan buku.
Daftar Pustaka
Larson, Lotta C &
Miller,Teresa N.2012. “21st Century Skills: Prepare Students for The Future”,
dalam Kappa Delta Pi Record, Spring, 2011, hlm.121-123.
Acheaw,Owusu M. &
Larson, Agatha G.2014. “Reading Habits Among Students and its Effect on
Academic Performance: A Study of Students of Koforidua Polytechnic”, dalam Library Philosophy and Practice (e-journal),
hlm.1-22.
Kamah, Idris
dkk.2002. Pedoman Pembinaan Minat Baca.
Jakarta: Perpustakaan Nasional RI
Gewati, Mikhael.
2016. Minat Baca Indonesia Ada di Urutan
ke 60 Dunia. http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia,
diunduh 12 Oktober 2017.
Kamus
Besar Bahasa Indonesia. 2017. https://kbbi.web.id/baca.html, diunduh 12 Oktober
2017.
Susanto,
A. 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran
di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group.
Ki
Supriyoko. 2004. Minat Baca dan Kualitas
Bangsa.Jakarta: Harian Kompas, Selasa, 23 Maret 2004.
Irianto, Rudi &
Marimin. 2015. “Pengaruh Fasilitas Perpustakaan dan Kinerja Pustakawan Terhadap
Minat Baca Siswa SMK Negeri 9 Semarang Tahun 2014/2015”, dalam Economic Education Analysis Journal,4
(2), hlm. 347-361.
Maynard, Sally. 2010.
“The Impact of E-Books on Young Children’s Reading Habits”, dalam Pub Res Q, Springer,(26), hlm. 236-248.
Hobbs N, Oleynik M
& Sacco K. 2009. “Reading: Making It Personal Again”, dalam Now Serving PIE to Hungry Readers. School
Library Monthly, 26 (3),hlm. 42-44.
Dominguez, Noraida,
dkk. 2015. “The School Librarian as Motivational Agent and Strategist for
Reading Appreciation”, dalam Journal of
Librarianship and Information Science, 1 (11), hlm.1-8.
Capotosto, Lauren,
dkk. 2017. “Family Support of Third-Grade Reading Skills, Motivation, and
Habits”, dalam AERA Open, 3 (3),
hlm.1-16.
Informatif
ReplyDelete👍👍👍
ReplyDelete👍
ReplyDelete